SAKING
berbakatnya, eks kapten Persebaya Mursyid Effendi menyebut Evan Dimas
sebagai "bocah ajaib". Di Akademi La Masia, Barcelona, Evan bersaing dengan 99 pemain lain dari seluruh dunia.
 |
| Evan Dimas Beserta Keluarga |
ANA
masih ingat betul betapa kelimpungannya dia dan sang suami, Darmono,
ketika anak sulung mereka yang saat itu berumur 9 tahun, Evan Dimas,
meminta sepatu bola. Maklum, mereka bukan orang berada: Ana hanya ibu
rumah tangga, sedangkan Darmono berjualan sayur keliling sebelum beralih
profesi menjadi petugas keamanan.
Ketika itu, Evan
yang getol bermain sepak bola sejak usia tiga tahun memang sudah
merengek minta didaftarkan ke Sekolah Sepak Bola Sasana Bhakti,
Surabaya. Otomatis dia harus memiliki sepatu bola.
"Demi
anak, kami akhirnya mengupayakan. Saya ke pasar dan membeli sepatu bola
yang harganya Rp 20.000. Yang murah-murah saja wis, asal Evan senang,"
kenang Ana yang bersama keluarga berdomisili di sebuah rumah sederhana
di kawasan Ngemplak, Surabaya.
Sepatu
tersebut ternyata tak cuma membuat Evan bungah. Tapi, sekaligus juga
menandai awal perjuangan dia hingga bermuara kepada berbagai prestasi
membanggakan. Misalnya, menjadi kapten timnas U-17 Indonesia yang sukses
menjuarai HKFA International Youth Football Invitation Tournament 2012
di Hongkong pada Januari lalu.
Yang paling mutakhir,
Evan yang kini berusia 17 tahun terpilih sebagai satu di antara empat
pemain muda terbaik dari kawasan Asia Tenggara dalam ajang Nike The
Chance. Pemain yang berposisi sebagai gelandang itu merupakan
satu-satunya dari Indonesia. Tiga pemain lainnya adalah Rahmat Che
Hashim (Malaysia/penyerang), Faris Ramli (Singapura/gelandang), dan
Napapon Sripratheep (Thailand/gelandang).
Mereka bakal
dikirim ke akademi sepak bola terbaik di dunia saat ini, La Masia, milik
Barcelona. Pep Guardiola, eks pelatih Azulgrana "julukan Barcelona"
juga dijadwalkan memberikan materi latihan.
Evan dan tiga pemain dari Asia Tenggara
tadi bakal digabung dengan 96 pemain lainnya dari seluruh dunia yang
akan diseleksi selama sepuluh hari di La Masia. Mereka selanjutnya
diperas menjadi tinggal 16 pemain.
"Saya tidak
menyangka bisa mendapat kesempatan ini," ujar pemain bertinggi badan 163
cm dengan bobot 55 kilogram yang dididik di SSB Mitra Surabaya sejak
berusia 11 tahun itu bangga.
Evan memang pantas bangga.
Sebab, dia dan tiga rekannya yang terpilih tersebut mengalahkan ribuan
pemain berusia 16-23 tahun yang mengikuti seleksi di empat negara Asia
Tenggara. Di Indonesia, penyaringan diadakan di tiga kota: Surabaya,
Medan, dan Jakarta. Khusus Surabaya, pesertanya tercatat 750 orang.
Karena
prestasinya bersama timnas U-17, remaja bernama lengkap Evan Dimas
Darmono itu berhak langsung tampil di semifinal di Jakarta. Di antara 30
pemain, tersaring lima orang saja yang berhak melaju ke final. Yaitu,
Evan, Randy Chandra, Rainhard Romario, Eriyanto, dan Apriyono. Mereka
lantas disandingkan dengan masing-masing lima pemain terbaik dari
Malaysia, Singapura, dan Thailand di Jakarta pada 10-13 Juni lalu.
Dua
puluh pemain itu tak Cuma digembleng latihan, namun juga diadu dengan
membagi mereka menjadi dua tim di Gelora Bung Karno, Jakarta: Nike The
Chance A dan Nike The Chance B. Posisi penjaga gawang sengaja diambil
dari luar peserta seleksi. "Seleksinya sangat ketat. Saat itu saya
tergabung di tim B dan berhasil menyumbangkan satu gol," kenang remaja
berzodiak Pisces itu.
Setelah laga yang dimenangkan tim
A dengan skor 4-3 itu, empat pelatih dari empat negara, yakni Widodo C.
Putro (Indonesia), Nophol Pibulvech (Thailand), Ong Kim Swee
(Malaysia), dan V. Sundramoorthy (Singapura), plus Simon McMenemy
(pelatih tim A) dan Yeyen Tumena (pelatih tim B), melakukan evaluasi.
Hasilnya, terpilihlah empat pemain tadi.
Mantan kapten
Persebaya Mursyid Effendi menganggap Evan memang sangat pantas terpilih
mewakili Indonesia. Mursyid yang membawa Evan masuk ke skuad Mitra
Surabaya yang tampil di Kompetisi Internal Persebaya bahkan menyebut
pengagum Xavi Hernandez itu sebagai "anak ajaib" karena luar biasanya
talenta anak pertama di antara empat bersaudara itu.
Cak
Mung -sapaan akrab Mursyid- juga masih ingat protes dari panitia ketika
dia pertama mendaftarkan Evan di Kompetisi Kelas I Persebaya.
Alasannya, usia Evan masih terlalu muda. "Tapi, saya tetap ngotot Evan
harus tetap bermain. Dulu Yusuf Ekodono saja bisa membela Persebaya saat
berusia 16 tahun dan kami menginginkan Evan juga bisa mengikuti jejak
itu," ujar legenda Persebaya tersebut.
Di mata Mursyid,
Evan adalah sosok gelandang ideal. Mobilitas tinggi, visi bagus, dua
kaki sama-sama hidup, dan insting golnya juga cukup tajam. "Evan saat
ini tinggal berkosentrasi untuk membesarkan bentuk badannya. Kalau sudah
begitu, dia baru akan terlihat sempurna di dalam lapangan," katanya.
Sedangkan
Ketua SSB Mitra Eko Prayogo meminta Evan agar terus membenahi kelemahan
terbesarnya: kontrol emosi. "Evan itu gampang emosi kalau diganggu
lawan. Karena itulah, di kompetisi Persebaya semua pelatih tim lawan
Mitra sepertinya sengaja menginstruksi pemain khusus untuk memancing
emosi dia," tutur Eko yang juga karyawan Jawa Pos itu.
Kini
menjelang hari-hari keberangkatan, selain tetap rutin berlatih, Evan
mulai melakukan sejumlah persiapan penting. Termasuk mendatangkan guru
bahasa Inggris ke rumahnya yang sederhana. "Sementara ini masih belajar
cara komunikasi harian. Kemungkinan bulan berikutnya baru naik level ke
yang lain," ujar penggemar tenis meja yang mengenal sepak bola dari
sepak bola jalanan di depan rumahnya itu.
Evan juga
mulai membiasakan diri dengan kebiasaan kehidupan Eropa, termasuk
makanan masyarakat di sana. "Sebab, dengar-dengar di sana tidak ada
nasi, yang ada hanya roti. Jadi jaga-jaga saja kalau akhirnya beneran
ndak ada nasi di sana," ungkapnya, lantas tersenyum.
Menurut
Evan, semua persiapan itu dilakukan karena tak ingin membuang
kesempatan ini. Sebab, ini adalah kesempatan kedua dia untuk belajar
sepak bola di luar negeri. Sebelumnya, pada 2009, nama Evan sempat masuk
daftar SAD (Sociedad Anonima Deportivo) yang belajar sepak bola di
Uruguay. Namun, entah mengapa, namanya dicoret seminggu sebelum
pemberangkatan.
Untung, setelah mendengar kabar itu,
Evan tidak putus asa. Dengan dukungan dan motivasi dari rekan-rekannya
di Mitra Surabaya, pemain yang saat ini menjadi andalan tim Jatim di PON
2012 di Riau itu bisa bangkit. Buktinya, dua tahun kemudian Evan
dipercaya untuk memimpin timnas U-17 di Hongkong. Kemudian, disusul
kesempatan berlatih di Barcelona ini.
Walhasil,
sejumlah klub besar tanah air kini mulai melirik Evan. Ganesha Putera,
sekretaris teknik Persija Jakarta, misalnya, bahkan secara langsung
datang ke Surabaya khusus untuk meminangnya. "Itu soal nanti. Yang
penting sekarang Evan berkonsentrasi latihan di Barcelona dulu," kata
Eko Prayogo.