Tour De Singkarak 2015: Ini Rute Baru Yang Akan Dilewati

Tour de SingkaraK 2015 akan menghadirkan destinasi baru yang pada pelaksanaan tahun sebelumnya tidak dilewati. Salah satunya adalah masuknya Mentawai dalam kabupaten/kota yang turut berpartisipasi dalam ajang balap sepeda tingkat internasional ini.

Hanya saja Mentawai belum masuk dalam rute balap sepeda ini. Sebab, kondisi Mentawai sebagai wilayah kepulauan belum memungkinkan para sepeda untuk melintasi daerah ini.

Pada pelaksanaan tahun ini, Tour de Singkarak akan dimulai dengan melalui Sumatera Barat bagian pesisir selatan. Biasanya, even ini dimulai dari Sumatera Barat bagian utara.

"Tahun lalu itu utara, tahun ini selatan. Kita juga lewat destinasi baru, seperti Pasaman Barat, Pesisir Selatan, Sijunjung, Solok Selatan," kata Sapta Nirwandar, Chairman Tour de Singkarak, Jumat (2/10/2015).

Kawasan baru yang akan dilewati antara lain adalah Kota Sawahlunto, yang dulunya merupakan kota tambang batubara dan kini berubah jadi kota wisata, serta Padang Panjang, di mana di kota tersebut peserta akan disuguhi beragam kuliner khas Sumatera Barat.

131 Pembalap Berpacu di Etape Pertama Tour de Singkarak 2015

Lomba balap sepeda internasional Tour de Singkarak resmi digelar. Ratusan pembalap dari 21 tim mulai mengayuh sepedanya di etape pertama, Sabtu, 3 Oktober 2015.

Pada etape pertama ini, sebanyak 131 pembalap start dari Pantai Carocok, Kabupaten Pesisir Selatan, menuju Pantai Gondoria, Kota Pariaman. Mereka harus menempuh jarak 163 kilometer.

Pembalap dari berbagai negara itu melewati Terminal Sago, Tarusan, Bayang, Sawah Like, dan Boras. Lalu pembalap mulai masuk Kota Padang dengan melewati Teluk Kabung, Bungus, Teluk Bayur, Simpang Kandang, Jalan Sudirman, dan Jalan Adinegoro.

Kemudian masuk Kabupaten Padang Pariaman dengan melintasi Pasar Usang, Pasar Lubuk Alung, Pasar Sicincin, Simpang Jagung, By Pass, Jalan W.R. Supratman, Jalan Imam Bonjol, Pasar Pariaman, Pantai Kata, dan finis di Pantai Gondoria, Kota Pariaman.

Pada etape ini, ada tiga titik sprint untuk memperebutkan poin Green Jersey. Yaitu di Kilometer 23, tepatnya di Tarusan; Kilometer 77,5 di Jalan Sudirman, Padang; dan Kilometer 110, atau tepatnya di Pasar Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman.

Pembalap juga akan memperebutkan Polkadot Jersey dengan melewati tanjakan atau King of Mountain. Ada dua tanjakan dengan level 1 dan 2, yaitu di Kilometer 48,5 atau di Batas Gerbang dan di Kilometer 64 atau di kawasan Mercusuar.

Ketua Tour de Singkarak Sapta Nirwandar mengatakan Tour de Singkarak ini merupakan ajang balap sepeda internasional yang memiliki penonton terbanyak. "Selalu meriah, di lokasi start dan finis, termasuk di rute-rute yang dilalui pembalap," ujar Sapta, Sabtu, 3 Oktober 2015.

Selain itu, kata Sapta, Tour de Singkarak merupakan salah satu upaya mempromosikan Sumatera Barat, yang memadukan antara olahraga dan wisata atau sport tourism. Dengan demikian, diharapkan dapat memacu pembangunan infrastruktur daerah dan membuka akses investasi.

Menurut Sapta, secara bertahap, kegiatan ini telah melahirkan dampak multiplier ekonomi. Antara lain bagi perhotelan, transportasi, kuliner dan kerajinan, serta tujuan wisata. "Bagi masyarakat Sumatera Barat sendiri, mega-event ini akan memberikan dampak positif untuk beragam sektor di sekitar wilayah yang masuk rute Tour de Singkarak," kata Sapta.

Asisten Deputi Pengembangan Segmen Pasar Personal Kementerian Pariwisata Raseno Arya mengatakan Tour de Singkarak tahun ini diikuti banyak tim yang berpengalaman dalam lomba balap sepeda internasional. Di antaranya Track Team Astana. Tim asal Kazakstan ini pernah mengikuti Tour de France.

Tour de Singkarak telah masuk kalender Union Cyclist International (UCI) dan Amaury Sport Organization (ASO). Menurut data yang mereka miliki, Tour de Singkarak menjadi salah satu ajang balap sepeda dengan penonton terbanyak.

Gagal Berlomba di Tour De Singkarak 2015, Tim Tuan Rumah Kecewa Berat

PAINAN - Sudah selayaknya tuan rumah bisa tampil di ajang bergengsi seperti Tour De Singkarak 2015. Sayangnya tim tuan rumah, Binong Baru Club Pesisir Selatan (BBCPS) harus memendam kekecewaan setelah gagal berlomba.

Tak salah kalau Ketua Persatuan Balap Sepeda, BBCPS Iqbal Ramadipayana, Jumat (2/10/2015), menumpahkan kekecewaannya. Menurutnya, selama ajang tur balap sepeda internasional itu digelar BBCPS sudah tampil empat kali.

"Sejak kami ikuti tidak pernah kami tidak memcapai finish, kami insan balap sepeda di Sumatera Barat kecewa padahal kami sudah menyiapkan atlet balap sepeda. Tapi entah apa penyebabnya kami tidak ikut," ketus Iqbal.

Menurut Iqbal, ia sudah membicarakan hal ini dengan Asisten Deputi Pengembangan Segmen Pasar Personal Kementerian Pariwisata, Raseno Arya dan Race Director Tour de Singkarak 2015, Sondi Sampoerno. Kedua orang ini pun telah menyetujui BBPCS tampil.

Bukan hanya itu, Iqbal pun sudah meminta restu pada Kabid Binpres PB ISSI Sugeng Trihartono empat bulan lalu. Namun pada 5 September lalu rilis lima tim nasional balap sepeda nama BBPCS tidak tercantum. "Kemudian saya hubungi lagi Sugeng Trihartono pada 5 September, pengurus itu meminta untuk mengirim email soal surat permohonan undangan, baik lewat email ke PB ISSI maupun email Sugeng Suhartono," jelasnya.

Pemberian surat permintaan undangan Ketua PB ISSI untuk meminta rekomendasi dan mereka agar ikut dilibatkan pada Kementerian Pariwisata Ekonomi Kreatif. "Pada 29 September 2015, Asisten Deputi Pengembangan Segmen Pasar Personal Kementerian Pariwisata, Raseno Arya membalas suratnya mengatakan tidak bisa mengakomodasi karena keterbatasan dana," ungkap Iqbal.

Seharusnya panitia event ini sebagai tuan rumah diikutsertakan, di manapun tur diadakan pasti akam melibatkan pembalap, seperti Tour de France selalu melibatkan tuan rumah meski dia tidak continental. "Apalagi lima tim nasional yang ikut, BBCPS masih bisa bersaing. Kami sudah ikut Tour de Singkarak sejak 2011 sampai 2014. Kalau soal dana kami saat ini ada, bersumber dari komunitas dan orang perantau," ujarnya.

Letnan Satu ANWAR, Pejuang yg jadi Pengemis





Tangis Salli (50) pecah. Raungnya meledak kala penulis datang ke rumahnya di Koto Baru, Lubukbegalung, Padang, 11 Januari Lalu. Salli adalah wanita parohbaya yang rela menampung Anwar. Letnan satu yang terpaksa jadi pengemis itu. “Gaek sudah tiada. Kenapa tak datang lagi ke sini nak. Di sana kuburan gaek,” ujar Salli menunjuk ke arah bukit. Air mata leleh di pipinya yang keriput.

Perlahan raung Salli mereda. Dia berkisah tentang Letnan Anwar yang digerogoti usia dan mulai saki-sakitan hingga ajal menjemputnya. Selama sakit, Anwar tidak diobati dengan telaten, paling banter, dia Cuma dikasih bodrex atau prokol. “Sejak 2008 itu, ketika anak tak ke sini lagi, gaek terus sakit-sakitan. Kian hari, kondisinya bertambah parah. Demikian, dia masih saja berjalan. Benar-benar keras kepala,” ungkap Salli.

Salli berterimakasih karena banyaknya orang yang peduli dengan Anwar. Sayangnya, kepedulian itu muncul saat Anwar telah tiada. “Bapak sudah tiada 12 April 2011 lalu. Kok baru sekarang orang mencarinya. Kala dia sudah tiada. Dulu, ketika dirinya mengemis untuk bertahan hidup, kenapa tak ada yang peduli. Bahkan, banyak yang menertawakannya ketika dia bercerita tentang kisah hidupnya. Menganggap itu semua lelucon,” sebut Sally (50).

***********

Kisah Letnan Satu Anwar, pengemis renta yang ditulis POSMETRO tahun 2008 silam kini menasional. Anwar yang diangkat cerita jalan hidupnya ke media masa kala berusia 94 tahun, jadi perbincangan di media sosial. Tapi sayang, penghormatan yang datang tak diketahui Anwar. Si Beringas dari Kuranji itu dipuji kala tiada. Anwar wafat 2011 silam. Sang Letnan, menghembuskan nafas terakhirnya akibat sakit yang tak terobati. Anwar pergi membawa kisah tragis seorang pejuang.

Banyak yang prihatin, bahkan menangis membaca laporan usang POSMETRO Padang. Cerita tentang Anwar yang sekarat menahan lapar, tentang keengganannya menerima bantuan pemerintah dan tentang tangan keriputnya yang menadah di tengah terik matahari, trotoar Jalan Sudirman, Kota Padang. “Sedemikian pilu. Orang yang ikut mengokang senjata melawan penjajah, malah tersingkirkan dari negeri yang diperjuangkannya dengan darah dan air mata. Di masa tuanya, Anwar malah melakoni hidup sebagai pengemis di Kota Padang. Tidak ada lencana veteran, bintang pejuang atau salam penghormatan. Dia terlantar. Sebegitu kurangnya empati negeri ini. Atau memang demikian cara menghormati pahlawan?” ucap Rahmat Fauza yang mengaku sudah dua hari berkeliling Kota Padang untuk menemukan Anwar.

Rahmat bukan satu-satunya pemuda yang mencari keberadaan Anwar. Di jejaring Kaskus, belasan orang mengaku sudah berbulan-bulan mencari Anwar. Tapi tak bertemu. Hal yang sama juga dilakukan aktivis Komunitas Cinta Pejuang Indonesia (KCPI). Dari Jakarta, mereka datang ke Padang untuk menyelamatkan Anwar. “Barangkali, sudah separoh Kota Padang kami jelajahi. Tapi tidak ada yang tahu, siapa Anwar,” tulis KCPI dalam situs resminya.

Kisah Anwar dibeberkan dipuluhan thread media sosial. Kepahlawannya diakui setelah dari keisengan salah satu pengguna internet yang mengedit foto Letnan Anwar agak kurang ajar. Foto Anwar yang diambil oleh fotographer POSMETRO Padang Ermansyah, saat tengah meminta sedekah itu, diedit seakan-akan Anwar meminta chip permainan poker. Ulah itu memancing reaksi warga dunia maya. Mereka marah, Anwar sang pahlawan dibuat demikian. “Benar-benar kelakuan yang tak bisa ditoleransi. Anwar itu pahlawan. Seharusnya kalian malu bukannya mempermalukan,” tutur beberapa pengguna Kaskus.


Pemimpin Kompi 3 Sumatera Selatan itu dipuji. Letnan Anwar, itulah sebenarnya pahlawan. Meski dilupakan, dirinya tak memberontak, tidak marah, atau mengkaji-kaji pengorbananya untuk negeri. “Tapi sekarang dia tiada. Angkat topi atas keteguhan hatinya,” sebut pengguna twitter @ikhocans.


**********

Kisah Anwar diberitakan POSMETRO 28 Juli 2008. Penulis kala itu bertemu Anwar yang sedang mengemis di Simpang Kandang, Kota Padang. Tubuhnya ringkih, terduduk lesuh. Tanpa alas di atas trotoar yang panas karena ditempa sinar matahari. Dia pengemis tertua di Kota Padang. Pengemis yang memiliki masa muda hebat, tapi berakhir tragis.

Sepintas, Anwar memang tak beda dengan pengemis lain. Bau bacin, berkemeja lusuh, sandal jepit, dan kopiah luntur. Kulitnya keriput dengan kantong mata yang menghitam. Wajahnya keriput, dipenuhi bulu-bulu abu-abu. Mulutnya kering, dengan gigi yang hanya tinggal dua. Gesturnya, selalu saja berharap belas kasih. Pada setiap yang lalu di depannya, Anwar mengulurkan tangan. Berharap ada yang memberinya uang.


Tapi, di balik penampikan kumalnya, siapa sangka, Anwar adalah seorang pejuang. Pengokang senjata kala negeri ini diamuk penjajah. Dia adalah Komandan Kompi 3 Sumatera Bagian Selatan, dengan pangkat Lentan Satu. Pemimpin yang mahir empat bahasa. Dia fasih berbicara bahasa Inggris, Jepang, Belanda dan tentu saja bahasa Indonesia. Akan tetapi, kerasnya hidup menyeret Anwar, ke lumbung kemiskinan. Sang letnan tiarap pada kehidupan. “Tak perlu. Jangan disebut lagi masa lalu. Itu sudah habis. Jangan dikenang lagi,” tutur Anwar kala itu. Saat dia masih hidup.


Anwar betul-betul keras. Sulit memintanya bicara banyak. “Saya sedang berusaha. Jangan diganggu. Ini belum makan, lihat itu, belum berisi,” ucap Anwar menunjuk ember biru yang ada di depannya. Ember itu sengaja disediakan, untuk orang melempar uang sebagai wujud dari rasa iba terhadapnya. Seolah, perkataan Anwar sebuah isyarat : Kalau mau bicara, isi ember itu. Hampir setegah jam hirau, Anwar akhirnya menyerah. Dia mau bicara. Tentang hidupnya. “Tapi jangan diputarbalik apa yang saya katakan,” ucap Anwar yang pernah juga bekerja sebagai kelasi kapal berbendera Jerman Barat.


Tanah Kuranji adalah tempat pertama yang menyambut kelahiran Anwar. Dia terlahir dari keluarga petani, 94 tahun lalu. Masa mudanya dihabiskan di pinggiran Kota Padang itu. Anwar adalah jebolah Sekolah Sembilan (kini Belakang Tangsi-red) tahun 1930. Lepas Sekolah Rakyat, Anwar mulai bekerja serabutan. Akhirnya dia diterima sebagai kelasi kapal. Tahun 1932 sampai 1939 Anwar berlayar. Dalam kurun waktu itu tak sedikit keragaman budaya yang dilihat pak tua. “Saya lulus sekolah Belakang Tangsi 1930. Selanjutnya berlayar tujuh tahun mengelilingi Asia sampai ke Australia. Kemudian pulang untuk berjuang. Saya tak mau bersenang-senang di atas kapal, sementara Bangsa kita sedang berjuang merebut kemerdekaan. Naluri kebangsaanlah yang memanggil jiwa untuk ikut berjuang,” terang Anwar.


******

Anwar muda sudah terbiasa berperang. Dia hidup untuk berpetualang. Melintasi medan. Bergerilya. Menunggu saat yang tepat menyerang tentara Belanda. “Saya bekas tentara Sumatera Selatan. Komandan Kompi 3. Tak terkira derita. Masa pergerakan benar-benar sulit. Desing peluru, bau mesiu, mayat dan simbahan darah hal biasa. Pelepas penat dan kebanggaan kala itu, sewaktu pulang ke barak, kita membawa topi serdadu, atau barang rampasan perang lainnya,” ulas Anwar.


Lubang kecil bekas hantaman peluru yang menghiasi kaki kananya, menjadi bukti keikutsertaan Anwar berjuang untuk bangsa. Karena tembakan itu, kini dia berjalan pincang. “Kaki ini ditembus peluru di Jalan Jakarta (Simpang Presiden-red). Waktu itu hari masih pagi. Perjanjian Linggarjati baru saja disepakati. Tapi Aziz Chan menentang perjanjian itu. Belanda marah dan mengamuk. Menyerang membabi buta di tengah Kota. Hasilnya, ya kaki ini kena tembak waktu mau pulang ke barak,” terang Anwar.


Bukan cuma ditembak. Anwar pernah merasai pengap hidup di balik jeruji besi. “Empat tahun saya dibui. Tertangkap waktu bergerilya, dari Padang dengan tujuan Payokumbuah yang waktu itu, tahun 1946 sedang bergejolak. Kala melewati Padangpanjang saya tertangkap Belanda. Waktu itu, peluru habis sementara kaki saya masih sakit. Saya digiring, kaki dirantai, diberi golongan besi, “ungkap Anwar mencoba merunut kembali petualangan masa lalunya.


Di Panjangpanjang, Anwar diperlakukan tak senonoh oleh Belanda. Hantaman bokong senjata, sayatan belati sampai dipaksa minum air kencing. Namun sang Letnan tetap tegar. Kepalanya tegak, walau kucuran darah dari pelipisnya tak berhenti. “Penjara dulu, bukan seperti sekarang. Dulu, tangan diikat kawat berduri, kaki dirantai golongan besi. Saban hari kena pukul. Bahkan, Untuk minum, mereka memberi air putih yang dicampur kencing,” celoteh Anwar.


Jangan pertanyakan nsionalisme pada Anwar. Kecintaannya pada Indonesia tak pernah surut. Terus berkobar. “Saya pernah ditanya tentara Belanda. Apakah saya berjuang dan jadi tentara karena hanya kedudukan dan jabatan semata? Saya jawab apa adanya? Berjuang untuk negara, bukan kedudukan. Bila kelak mati di sini. Saya bangga, karena itu demi negara,” ucap Anwar.


Anwar berjuang terus. Sampai dia sendiri lupa akan keluarganya. Anwar pernah menikah dengan seorang wanita Belakang Olo. Tapi hanya sebentar Anwar mengecap indah rumah tangga. Istrinya mati karena kolera dan kekurangan asupan gizi, ikut juga tiada anak yang dikandungnya. Anwar baru tahu istrinya tiada empat bulan kemudian, tepatnya saat dia pulang bergerilya.


******

Lepas dari itu, Indonesia akhirnya merdeka dengan penuh. Namun tak begitu bagi Anwar. Tak ada penghargaan yang diterimanya. Pengorbanan dan perjuangannya yang dikibarkannya seakan dilupakan. Anwar hilang di tengah gegap gempita kemerdekaan. Ditambah kematian istri, seolah pembawa petaka. Anwar kehilangan semangat hidup. Sempat terjerumus ke dunia hitam. Anwar tobat. Tapi, hidup memang tak pernah berpihak pada Anwar. Semakin terlunta-lunta. Hingga jalan sebagai pengemis jadi pilihan terakhirnya.


Tak ada tanda jasa. Tak ada lencana penghormatan yang diterima Anwar. Bahkan gelar pahlawan veteran pun tak singgah. “Saya tak butuh apapun. Dulu, saya berjuang bukan untuk mendapatkan tanda jasa. Saya berjuang untuk negara. Tak perlu tanda jasa apalagi uang. Biarlah hidup begini, asal tak menganggu orang lain. Saya rela. Memang, ada kawan yang ikut mengangkat senjata kebanyakan tenang menjalani masa tuanya. Saya tak suka itu, bagi saya berjuang bukan untuk kemapanan masa tua,” jawab Anwar. Dia segera berdiri, pergi minta segelas air kepada pedagang di depan Masjid AL Mubarah, Sawahan.


Memang, dulu Anwar pernah diberi sertifikat veteran. Namun karena jalan hidupnya yang sering berpindah tempat “surat sakti” itu raib entah kemana. Padahal, surat itu adalah sebagai landasan Anwar untuk menerima haknya sebagai veteran. “Kalau tak salah Surat Bintang Gerilya. Tapi surat itu sudah hilang. Kata orang surat itu adalah syarat untuk menerima tunjangan dari pemerintah. Tapi tak apalah, saya juga tak perlu itu. Kan sudah saya katakan kalau saya berjuang bukan untuk uang apalagi jabatan. Walaupun meminta-minta tapi saya tak menyusahkan orang lain. Saya sudah pernah hidup senang di atas kapal. Sekarang saatnya susah,” kata Anwar.


Letnan Anwar. Sang pahlawan kini telah tiada di masa pembangunan. Di tak menerima apa-apa dari perjuangan. Sebatas penghormatan pun tidak. Anwar terlupakan. Bangsa ini benar-benar sudah berdosa padanya.


Memang Anwar tak minta apa-apa dari perjuangannya. Itu menjadi pelajaran ke depannya. Terhadap Anwar-Anwar yang lain. Apakah kita tega melihat orang yang melepaskan kita dari jeratan penjajah harus terlunta. Mengemis untuk hidup. Tanah kemerdekaan yang kita pijak ini berhutang darah padanya.


Kami kembali merawikannya, karena banyak yang bertanya dimana Sang Letnan sekarang. Ternyata, sang letnan sudah tiada. Dia pulang ke pangkuan-NYA, tanpa upacara penghormatan dan isak tangis anak negeri. Maka benarlah pameo lama, kepahlawanan seseorang itu dihargai kala dia tiada. Saat hidup, siapa peduli dengan Anwar. Pemerintah? Mereka tak peduli. Bahkan tak tahu, kalau Anwar, orang yang negeri ini berhutang darah padanya, melakoni hidup sebagai pengemis. (*)

Apa perbedaan antara SUNNI dan SYIAH?



Apa perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah (SUNNI)dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (SYIAH) ?

Banyak orang yang menyangka bahwa perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah) dianggap sekedar dalam masalah khilafiyah Furu’iyah, seperti perbedaan antara NU dengan Muhammadiyah, antara Madzhab Safi’i dengan Madzhab Maliki.

Karenanya dengan adanya ribut-ribut masalah Sunni dengan Syiah, mereka berpendapat agar perbedaan pendapat tersebut tidak perlu dibesar-besarkan. Selanjutnya mereka berharap, apabila antara NU dengan Muhammadiyah sekarang bisa diadakan pendekatan-pendekatan demi Ukhuwah Islamiyah, lalu mengapa antara Syiah dan Sunni tidak dilakukan ?.

Oleh karena itu, disaat Muslimin bangun melawan serangan Syiah, mereka menjadi penonton dan tidak ikut berkiprah.

Apa yang mereka harapkan tersebut, tidak lain dikarenakan minimnya pengetahuan mereka mengenai aqidah Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah). Sehingga apa yang mereka sampaikan hanya terbatas pada apa yang mereka ketahui.

Semua itu dikarenakan kurangnya informasi pada mereka, akan hakikat ajaran Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah). Disamping kebiasaan berkomentar, sebelum memahami persoalan yang sebenarnya.

Sedangkan apa yang mereka kuasai, hanya bersumber dari tokoh-tokoh Syiah yang sering berkata bahwa perbedaan Sunni dengan Syiah seperti perbedaan antara Madzhab Maliki dengan Madzahab Syafi’i.

Padahal perbedaan antara Madzhab Maliki dengan Madzhab Syafi’i, hanya dalam masalah Furu’iyah saja. Sedang perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah), maka perbedaan-perbedaannya disamping dalam Furuu’ juga dalam Ushuul.

Rukun Iman mereka berbeda dengan rukun Iman kita, rukun Islamnya juga berbeda, begitu pula kitab-kitab hadistnya juga berbeda, bahkan sesuai pengakuan sebagian besar ulama-ulama Syiah, bahwa Al-Qur'an mereka juga berbeda dengan Al-Qur'an kita (Ahlussunnah).

Apabila ada dari ulama mereka yang pura-pura (taqiyah) mengatakan bahwa Al-Qur'annya sama, maka dalam menafsirkan ayat-ayatnya sangat berbeda dan berlainan.

Sehingga tepatlah apabila ulama-ulama Ahlussunnah Waljamaah mengatakan : Bahwa Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah) adalah satu agama tersendiri.

Melihat pentingnya persoalan tersebut, maka di bawah ini kami nukilkan sebagian dari perbedaan antara aqidah Ahlussunnah Waljamaah dengan aqidah Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah).

1. 
Ahlussunnah : Rukun Islam kita ada 5 (lima)
a) Syahadatain
b) As-Sholah
c) As-Shoum
d) Az-Zakah
e) Al-Haj

Syiah : Rukun Islam Syiah juga ada 5 (lima) tapi berbeda:
a) As-Sholah
b) As-Shoum
c) Az-Zakah
d) Al-Haj
e) Al wilayah


2. 
Ahlussunnah : Rukun Iman ada 6 (enam) :

a) Iman kepada Allah
b) Iman kepada Malaikat-malaikat Nya
c) Iman kepada Kitab-kitab Nya
d) Iman kepada Rasul Nya
e) Iman kepada Yaumil Akhir / hari kiamat
f) Iman kepada Qadar, baik-buruknya dari Allah.

Syiah : Rukun Iman Syiah ada 5 (lima)*

a) At-Tauhid
b) An Nubuwwah
c) Al Imamah
d) Al Adlu
e) Al Ma’ad

3. 
Ahlussunnah : Dua kalimat syahadat
Syiah : Tiga kalimat syahadat, disamping Asyhadu an Laailaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah, masih ditambah dengan menyebut dua belas imam-imam mereka.


4. 
Ahlussunnah : Percaya kepada imam-imam tidak termasuk rukun iman. Adapun jumlah imam-imam Ahlussunnah tidak terbatas. Selalu timbul imam-imam, sampai hari kiamat.
Karenanya membatasi imam-imam hanya dua belas (12) atau jumlah tertentu, tidak dibenarkan.

Syiah : Percaya kepada dua belas imam-imam mereka, termasuk rukun iman. Karenanya orang-orang yang tidak beriman kepada dua belas imam-imam mereka (seperti orang-orang Sunni), maka menurut ajaran Syiah dianggap kafir dan akan masuk neraka.

5. 
Ahlussunnah : Khulafaurrosyidin yang diakui (sah) adalah :

a) Abu Bakar
b) Umar
c) Utsman
d) Ali Radhiallahu anhum

Syiah : Ketiga Khalifah (Abu Bakar, Umar, Utsman) tidak diakui oleh Syiah. Karena dianggap telah merampas kekhalifahan Ali bin Abi Thalib (padahal Imam Ali sendiri membai'at dan mengakui kekhalifahan mereka).

6. 
Ahlussunnah : Khalifah (Imam) adalah manusia biasa, yang tidak mempunyai sifat Ma’shum.
Berarti mereka dapat berbuat salah/ dosa/ lupa. Karena sifat Ma’shum, hanya dimiliki oleh para Nabi.

Syiah : Para imam yang jumlahnya dua belas tersebut mempunyai sifat Ma'’hum, seperti para Nabi.


7. 
Ahlussunnah : Dilarang mencaci-maki para sahabat.

Syiah : Mencaci-maki para sahabat tidak apa-apa bahkan Syiah berkeyakinan, bahwa para sahabat setelah Rasulullah SAW wafat, mereka menjadi murtad dan tinggal beberapa orang saja. Alasannya karena para sahabat membai'at Sayyidina Abu Bakar sebagai Khalifah.



8. 
Ahlussunnah : Siti Aisyah istri Rasulullah sangat dihormati dan dicintai. Beliau adalah Ummul Mu’minin.

Syiah : Siti Aisyah dicaci-maki, difitnah, bahkan dikafirkan.


9. 
Ahlussunnah : Kitab-kitab hadits yang dipakai sandaran dan rujukan Ahlussunnah adalah Kutubussittah :
a) Bukhari
b) Muslim
c) Abu Daud
d) Turmudzi
e) Ibnu Majah
f) An Nasa’i
(kitab-kitab tersebut beredar dimana-mana dan dibaca oleh kaum Muslimin sedunia).

Syiah : Kitab-kitab Syiah ada empat :
a) Al Kaafi
b) Al Istibshor
c) Man Laa Yah Dhuruhu Al Faqih
d) Att Tahdziib
(Kitab-kitab tersebut tidak beredar, sebab kebohongannya takut diketahui oleh pengikut-pengikut Syiah).


10. 
Ahlussunnah : Al-Qur'an tetap orisinil

Syiah : Al-Qur'an yang ada sekarang ini menurut pengakuan ulama Syiah tidak orisinil. Sudah dirubah oleh para sahabat (dikurangi dan ditambah).


11. 
Ahlussunnah : Surga diperuntukkan bagi orang-orang yang taat kepada Allah dan Rasul Nya.
Neraka diperuntukkan bagi orang-orang yang tidak taat kepada Allah dan Rasul Nya.

Syiah : Surga diperuntukkan bagi orang-orang yang cinta kepada Imam Ali, walaupun orang tersebut tidak taat kepada Rasulullah.
Neraka diperuntukkan bagi orang-orang yang memusuhi Imam Ali, walaupun orang tersebut taat kepada Rasulullah.



12. 
Ahlussunnah : Aqidah Raj’Ah tidak ada dalam ajaran Ahlussunnah. Raj’ah adalah besok diakhir zaman sebelum kiamat, manusia akan hidup kembali. Dimana saat itu Ahlul Bait akan balas dendam kepada musuh-musuhnya.

Syiah : Raj’ah adalah salah satu aqidah Syiah. Dimana diceritakan : bahwa nanti diakhir zaman, Imam Mahdi akan keluar dari persembunyiannya. Kemudian dia pergi ke Madinah untuk membangunkan Rasulullah, Imam Ali, Siti Fatimah serta Ahlul Bait yang lain.

Setelah mereka semuanya bai'at kepadanya, diapun selanjutnya membangunkan Abu Bakar, Umar, Aisyah. Kemudian ketiga orang tersebut disiksa dan disalib, sampai mati seterusnya diulang-ulang sampai ribuan kali. Sebagai balasan atas perbuatan jahat mereka kepada Ahlul Bait.

Keterangan :
- Orang Syiah mempunyai Imam Mahdi sendiri. Berlainan dengan Imam Mahdinya Ahlussunnah, yang akan membawa keadilan dan kedamaian.